Takut: Pesimisme atau Realistis?

(seri nostalgia putih-abuabu)

Saya ingat satu waktu di tahun 97’an. Waktu itu saya masih sangat muda, naif (dan kurus lagi ganteng! ;p).

Sebagai pelajar SMU yang dipercayai mengepalai Majelis Perwakilan Kelas, saya selalu diikutkan dalam rapat-rapat strategis nan penting (untuk ukuran warga SMU tentunya ;p).

Saya ingat dalam sebuah kesempatan, ketika hendak memutuskan apakah Proyek pembuatan Buku Tahunan akan dilanjutkan atau tidak, saya tegas mengatakan Tidak Mungkin!

Waktu itu saya bilang hal itu tidak mungkin, dan saya katakan bahwa saya sedang bersikap realistis bukan pesimis. Faktanya: waktu yang tersedia hanya sedikit lagi (kalau tidak salah cuma 1 atau 2 bulan). Sedang saya ingat pengalaman saya dan rekan di MadPink98, waktu 6 bulan saja tidak cukup.

Fakta berikutnya cukup mengejutkan bagi saya. Didikan kami di MadPink berhasil menyelesaikan proyek itu dengan tepat waktu dan dengan hasil yang lebih baik dari yang kami kerjakan. (Waks! Ini judulnya sih Ditampar di Muka! ;p).

Kesampingkan fakta bahwa mereka memang orang hebat (dan kami sebagai Pengajar mengaku bangga dan kagum.. hehehehe). Satu hal yang menjadi pikiran saya adalah, apakah benar saya membuat pernyataan Realistis atau sebenarnya Pesimis yang hadir karena ketakutan saya untuk gagal?

Let’s fast forward to a couple of years later… Tepatnya sekarang. Hari ini (17/05/2004).

Saya sudah menikah. Dan kami (Alhamdulillah) sudah tinggal di tempat sendiri. Tiba-tiba dalam kepala saya muncul lagi pikiran-pikiran Pesimistis (atau Realistis?).

Apakah betul kami akan mampu mencapai apa yang kami inginkan? Sebuah rumah milik kami sendiri, dengan cukup tempat bagi anak-anak kami bermain. Mungkin sekedar halaman belakang.

Apakah semua yang kami impikan itu bisa tercapai? Jawabannya, seperti dikatakan Istri saya tercinta, hanya Allah yang tahu.

(Lalu saya menghela napas dan bersyukur. Pertama karena saya diberkati seorang Istri yang bisa mendukung saya dan bersabar, Kedua karena sungguh nikmat yang sekarang saya rasakan ini sangatlah besar, dan masih ada orang lain yang bahkan tidak bisa seberuntung kami)

NB: Jadi ingat. Suatu kali ketika Saya dan Istri belum menikah, kami pernah memimpikan untuk tinggal di rumah sendiri pada awal pernikahan kami dan mimpi itu bukan sebuah rumah besar tapi sebuah kontrakan di tengah kota yang sumpek dan sempit. Rupanya setiap impian kita sebenarnya didengarkanNya. 🙂

Morale: Jangan lupa untuk mimpi yang indah ya..!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s