Gempa, Tsunami dan Amandel

Minggu Pagi (26/12/2004) saya ada di Ciapus. Biasalah, mengunjungi mertua sekalian berlibur. Kira-kira sore hari saya dapat kabar Gempa dan Tsunami yang melanda Aceh. Kekhawatiran langsung melanda saya dan istri, pasalnya:

1. Ayah saya sedang ikut melaut dengan temannya di Samudera Hindia, dan saya tidak tahu persisnya ada di mana. Belakangan saya tahu kalau ia melaut di sekitar selatan P. Jawa, meski sempat melewati sebagian Samudera Hindia. Tidak ada apa-apa di laut, bahkan lautan konon terlihat tenang di selatan Jawa.

2. Seorang sepupu istri saya ada di Aceh. di Meulaboh pula! (Anehnya kami baru ingat ini hari selasa petang) Alhamdulillah Allah belum berkehendak menimpakan musibah pada dirinya. Pada hari kejadian A’Ian (sepupu istri saya itu) berada di asramanya di Lhokseumawe bersama anak dan istrinya. Meski lokasi asrama itu cukup ‘ngeri’ juga, hanya 300 meter (kira-kira) dari batas ujung Tsunami.

3. Keluarga dari Tante Fad (ini istri adik mertua saya) yang berada di Aceh cukup banyak. Kebetulan emmang berasal dari sana. Hingga Selasa malam hanya didapat kabar dari Ibunya Tante Fad, adik-adik dan saudara-saudaranya masih tiada kabar.

Tidak ada hubungannya dengan Gempa dan Tsunami, Senin pagi saya didiagnosa menderita Amandelitis (tonsilitis?) alias peradangan Amandel derajat ketiga. Satu derajat lagi dan saya harus diangkut ke ruang operasi. Akibatnya harus miss kantor dua hari. Kelihatannya sih terapi yang diberikan dokter cukup ampuh, menurut istri saya amandel saya mulai mengempis pagi ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s