Sulitnya Sebuah Elegi

Ibu saya meninggal dunia, Minggu (19/6/2005), sekitar pukul 18.10 di RS Puri Cinere, kamar 510. Saya, istri saya, kakak-kakak saya dan bapak saya. Pada detik-detik kematian Ibu saya bisa merasakan panas tubuhnya yang lenyap.

Senin siang Ibu dimakamkan di Kompleks Pemakaman Umum Pitara, Depok.

Pagi sebelum itu, saya diminta melengkapi beberapa baris elegi yang akan dibacakan oleh pihak keluarga (dalam hal ini yang membacakan adalah adik Ayah saya).

Terus terang saya tidak sanggup menuliskannya. Menuliskan elegi berarti mengenang lagi semua kebaikan almarhumah. Emosi saya meluap, mata saya berkaca-kaca di depan layar monitor komputer di rumah, hingga akhirnya air mata itu mengalir dan saya tak sanggup meneruskan.

Sedikit yang saya tuliskan, seingat saya, adalah: “Ibu adalah mata air yang tiada habis-habisnya”

Memang, bagi siapapun yang mengenal almarhum, saya kira akan setuju dengan pernyataan itu. Betapa Ibu adalah mata air kesabaran yang seperti tak kering-kering menghadapi berbagai ujian dan cobaan.

Ibu juga mata air inspirasi yang terus menerus memancar. Ia jadi teman cerita dan menghidupkan ide. Mulai dari ide untuk tugas sekolah dari anak-anaknya, ide seorang rekannya yang ingin menulis buku, hingga ide membuat penerbitan,

Ada banyak yang bisa dan ingin saya tuliskan tentang almarhum. Tapi rasanya, emosi saya belum cukup stabil untuk itu. Mungkin lain kali, atau mungkin dalam bentuk yang lain.

Advertisements

3 thoughts on “Sulitnya Sebuah Elegi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s