Kita Bakiak atau Sepatu?

Di Musholla Al-Def-Qo disediakan bakiak untuk kendaraan bagi mereka yang mau berwudhu. Daripada berbasah sepatu atau menceker sepanjang jalan, memang lebih mantap pakai bakiak.

Sebenarnya saya membawa sendal ke kantor. Tapi entah siapa yang meminjam saat saya cuti, hingga kini sendal itu belum kembali juga ke kolong meja. (Semoga yang meminjam menuai manfaat dan berkah dari sendal tersebut. Amiien)

Nah soal bakiak. Saya suka memakai bakiak karena bunyinya yang keletak-keletok saat berjalan. Tapi bukan soal itu yang mau saya tulis di sini.

Bakiak, saya yakin banyak orang juga memperhatikan, hampir tak pernah pas satu sama lainnya. Seperi saya katakan pada Bung Andi, jangan-jangan bakiak memang tak dibuat berpasang-pasangan ya?

Nah soal bakiak yang seperti itu, saya jadi bertanya-tanya: Apakah manusia itu bakiak atau sepatu?

Kalau manusia itu sepatu, tentunya dibuat berpasangan. Sehingga setiap insan punya pasangan insan yang sudah ditentukan dari sononya.

Tapi kalau seperti bakiak (yang dalam pemahaman saya tak dibuat berpasangan) maka sebenarnya setiap manusia dan jodohnya bukanlah a match made in heaven.

Kita (yang bakiak) dalam mencari jodoh adalah mencari pasangan yang paling pas. Mungkin lebar dan panjangnya tak sama sepadan betul, mungkin karetnya tak sama lunak-kerasnya, mungkin tebalnya njomplang, mungkin beratnya jauh terpaut atau dekat.

Jadi antara satu insan dan insan lain, tak ada yang namanya ‘pas’ atau ‘klop’ sepasang layaknya sepatu kiri dan kanan. Melainkan memang kita nih cuma bisa berusaha, mencari pasangan bakiak yang sebisa mungkin paling pas untuk kita.

Lihat pasangan Anda (jika sudah punya) dan cermati (sebisa mungkin diam-diam saja): Mungkin lebar dan panjangnya tak sama sepadan betul, mungkin karetnya tak sama lunak-kerasnya, mungkin tebalnya njomplang, mungkin beratnya jauh terpaut atau nyaris seragam. Tapi yang penting adalah hatinya toh!?

Manusia adalah bakiak.. atau sepatu? Anda pilih sendiri deh.

Iklan

5 tanggapan untuk “Kita Bakiak atau Sepatu?

  1. wah.. pemikiran yang bagus sekali. memang walaupun disebutkan manusia itu diciptakan berpasang-pasangan, namun kayaknya ya kita sendiri yang harus mencari pasangan itu. bukan dengan menunggu. tapi kadang kita juga diberikan tanda-tanda bahwa itu adalah pasangan kita.jadi kembali lagi pada pertanyaannya, kita ini ibarat bakiak atau sepatu? (karena sebenarnya kita ini manusia. hehehe…)

  2. perumpamaan yang brilian 😀 *tumben gw komentarnya memuji..hueekss*ada kalanya kita ini menjadi ‘bakiak’, meskipun dari sononya *mungkin* kita sudah diciptakan menjadi ‘sepatu’so, tergantung kitanya juga bukan?God’s so great isn’t it..Dia bisa membiarkan kita berimaginasi dengan menjadikan diri kita bagaikan ‘bakiak’ atau ‘sepatu’a man could be anything that he/she desire most..but anything wouldn’t happen without god’s will or permission..nah bingung khan loe :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s