Jurnalisme Sastrawi = Ngeblog?

Jurnalisme Sastrawi (literary journalism) atau juga dikenal dengan nama narrative reporting membuka kesempatan pada wartawan untuk berkreasi. Sentuhan warna, nuansa dan karakter ala karya sastra digunakan untuk membuat kisah yang dramatis (tapi tetap merupakan sebuah berita).

Menurut Brian Spadora, dari Poynter.org, Norman Sims (penulis buku True Stories: A Century of Literary Journalism) menyebut bahwa bentuk-bentuk awal dari jurnalisme sastrawi itu memiliki kemiripan dengan bentuk narasi yang sekarang akrab di kalangan jurnalis: apalagi kalau bukan blog.

Bentuk awal Jurnalisme Sastrawi itu adalah Sketch, yang menurut Sims dipopulerkan oleh jurnalis era abad 19 macam George Ade dan Finley Peter Dunne.

The sketch died early in the 20th century when facts-consciousness and objectivity were newfound darlings in the press. Today, editors are recognizing that narrative storytelling can be accurate and more enjoyable than the standard forms of news.

For (late 19th-century journalists) George Ade and Finley Peter Dunne, the column provided an oasis for sketch writers in the 20th century, and that remains true today. In a column, voice, perspective, personality and attitude are appropriate. Recently reporters have discovered another area where sketches can survive: the blog.(ujar Sims saat diwawancarai Spadora).

frontis.jpgSaya sendiri kesulitan melihat contoh Sketch, pencarian lewat Om Google hanya menghasilkan link yang (menurut saya) kurang relevan. Meski ada juga satu link ke buku dari proyek Guttenberg yang ditulis oleh seorang George Ade. Apakah ini buku berisi Sketch yang dimaksud, saya tidak tahu.

Satu hal yang menarik adalah pendapat Sims bahwa jurnalisme ‘koran’ saat ini bisa memanfaatkan piranti-piranti Jurnalisme Sastrawi tanpa perlu menghabiskan banyak sumber daya.

You don’t have to be John McPhee at The New Yorker to use the tools of literary journalism in newswriting. Within a larger story, a writer can embed a scene complete with setting, characters, dialogue, and action. Characterization that brings people to life can involve more than details of age, occupation, and address.

Seperti Pemred Detikcom pernah bilang, berikan gambaran seperti apa nara sumber, apakah orangnya berkacamata atau berkumis atau apa, apakah ia mengenakan baju warna merah, dan lain sebagainya. Detil seperti itu, ujarnya dalam sebuah rapat, bisa membuat tulisan lebih hidup.

Powered by ScribeFire.

Advertisements

3 thoughts on “Jurnalisme Sastrawi = Ngeblog?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s