Pagi Ini Begitu Indah

Sayangku,

Pagi ini begitu indah. Ada aroma kopi yang menyembul di antara sibuknya hari. Tukang koran memanggil-manggil pelanggan, berharap pada selembar dua lembar uang ribuan. Mobil-mobil mulai dinyalakan, menyelipkan satu-dua miligram racun ke udara yang seharusnya bisa lebih segar.

Sayangku,

Pagi ini begitu indah. Bang Umar, tetangga dua rumah kita ke kanan, seperti biasa sedang memanaskan motornya. Kemarin malam aku dengar dia pulang jam dua malam, brak-bruk-brak-bruk motor bututnya itu membangunkan.

Sayangku,

Tetangga kita sebelah kiri. Asri.. Astri.. Asti.. Ah, kau lebih ingat siapa namanya. Mantan covergirl itu. Kalau malam suka membangunkan aku. Jangan cemburu dulu. Dia tidak mengetuk bahuku seperti kau. Cuma kegemarannya memakan ubi itu lho. Kentutnya setiap jam 12 malam, berturut-turut meledak. Bruut! Bruut! BOOM!

Sayangku,

Untungnya antara rumah kita dan rumahnya tak ada saluran udara!

Sayangku,

Pagi ini begitu Indah. Aku mendengar suara burung bercicit. Kau mungkin lebih tahu itu burung apa. Suaranya seperti peluit terpotong-potong. Cu-cu-wit-pri-ri-rit-pri-ri-rit-ti-ti-tu-wit.

Sayangku,

Pagi ini memang indah. Tapi aku punya satu keluhan.

Sayangku,

Kenapa sih kau tak ada di sini lagi?

(dibuat dalam rangka mengikuti lomba ngeluh gobal di blogfam)

Advertisements

9 thoughts on “Pagi Ini Begitu Indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s