Saksi, Penonton dan Eksistensi

933791_concert.jpgHidup ternyata butuh saksi.

Scott Adams bilang –mengutip pemikiran lain yang ia juga tak ingat persis– seseorang menikah karena membutuhkan orang lain untuk menjadi saksi kehidupannya. Sebelum ada yang bersaksi, kata Scott, maka seseorang belum eksis.

Ia sendiri mengaku belum merasa jadi kartunis sampai seorang kartunis lain mengatakan kalimat: “kamu seorang kartunis.”

Atau, saya rasa akan tepat juga, jika saksi itu diterjemahkan menjadi penonton.

Hidup ternyata butuh penonton.

Penonton atas pencapaian dalam hidup. Penonton atas kegelimangan yang dicapai.

Penonton yang akan juga merasa sedih saat sang tokoh sedih. Gembira saat ia gembira.

Bukan hanya pasangan hidup. Tapi juga keluarga, teman dekat hingga rekan sejawat.

Kemudian, bagi mereka yang berkarya di hadapan publik, penonton dalam arti sebenarnya.

Agaknya dorongan untuk disaksikan dan ditonton hidupnya inilah yang membuat manusia menjadi sosial.

Tapi lebih dari penonton, kita kembali lagi pada istilah saksi tadi. Yaitu adanya orang yang bersaksi, menegaskan dengan kata-katanya, bahwa sang tokoh memiliki eksistensi.

Dan saksi ini kadang tak bisa sembarangan. Seorang penulis akan merasa eksis sebagai penulis saat penulis lain bersaksi bahwa ia benar memang seorang penulis (seperti kasus Scott Adams di atas).

Percayakah Anda bahwa sebenarnya hidup ini adalah lakon bagi setiap individu, dan ia senantiasa mencari penonton untuk lakonnya itu?

(NB. Terima kasih ya sudah menjadi penonton saya :p )

Advertisements

2 thoughts on “Saksi, Penonton dan Eksistensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s