Not Firm, But to The Heart

Hari ini (Selasa 18 November 2008), saya ketemu Bruce Lawson di Gunadarma, Depok. Evangelist untuk standar web ini orangnya menyenangkan, selera humornya oke juga.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar –dia pun sempat share nasihat untuk web developer di Indonesia— kami berjabat tangan dan berpisah.

“Oops,” kata Lawson setelah berjabatan dengan saya. Lalu ia kembali menjulurkan tangannya.

Ada apa ini, pikir saya. Ada yang salah?

Setelah berjabatan kedua kali, dia mengikuti saya meletakkan telapak tangannya di atas dada sambil berkata. “Saya selalu lupa bagian yang ini, bagian keduanya,” tukasnya tersenyum.

Ah,  rupanya dia memperhatikan kebiasaan saya menyentuhkan telapak tangan ke dada setelah bersalaman.

Kebiasaan Melayu saya memang demikian. Setiap habis bersalaman, tangan diletakkan ke dada. Itu semacam pernyataan ‘saya masukkan ke hati’.

Well Bruce, jabat tangan kami mungkin tak seerat genggaman tangan Anda, tapi hey kami punya tempat untuk Anda di dalam hati !

(Our handshake may not be firm, but we take it to the heart!)

Advertisements

5 thoughts on “Not Firm, But to The Heart

  1. jabatan tangannya booleh melayu tapi lagunya jangan melulu mendayu-dayu layaknya kesukaan orang melayu… makanya yuk mari goyang duyuuuu *makin nggak jelas hehehe :p

  2. Menyentuhkan telapak tangan ke dada setelah bersalaman? sy bukan org melayu tp ko itu juga jd kebiasaan saya,kayanya itu pengaruh kebudayaan islam juga yach,,

    makanya yuk mari goyang duyuuuu,
    apa coba.. hehehe.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s