kota-kota menulis

Kebun Raya BogorHemmingway memuja Paris, dalam novel pseudo-biografi ‘A Moveable Feast’ Hemmingway menulis Paris sebagai tempat yang sangat indah. But the paris of Hemmingway may not be the Paris that it is today.

Inspirasi yang berjubel mungkin menghinggapi Hemmingway saat di Paris. Meskipun kemudian (bukankah?) ia juga tinggal di kota-kota lain yang juga eksotis, Paris seperti tak pernah pergi dari batinnya.

Saya pernah mengira, Bandung adalah inspirasi. Saya bahkan pernah menuliskan Bandung bagaikan Hemmingway menuliskan Paris. Padahal waktu saya tinggal di Kota Kembang, The Paris of Java, itu hanya sejenak — di sebuah kamar bekas gudang yang nyaris tak cukup untuk satu buah kasur.

Bandung memang geulis. But the Bandung of then is not the Bandung of today.

Kota menulis saya, selain Depok tempat saya tinggal, ternyata adalah Bogor.

Bogor, dengan dedaunannya yang berjatuhan, pohon-pohon rimbun, Kebun Raya, jalan Kehutanan di Gunung Batu, rumah-rumah tua, Taman Kencana, Paledang.

Bogor ternyata jauh lebih romantis dalam kenangan saya belakangan ini. Dan hujannya! DUH! Kangen sekali menikmati hujannya, suasana setelah hujan, sebelum hujan, antara hujan ke hujan.

Kangen juga bangun pagi, menengok ke arah Gunung Salak, membuktikan Teori Darwin.

Kota-kota tempat saya menulis: Depok, Bogor, Bandung.

(Foto: Ian Riley via Wikipedia via Flickr. Creative Commons Attribution 3.0)

Advertisements

One thought on “kota-kota menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s