yang terserak

Kamis, 29 April 2010

Baru duduk di meja kantor, menyusun posisi iPad, iPhone, laptop, BlackBerry dan ponsel Nokia 1100 kesayangan dalam layout yang paling aman di atas meja. Letakkan gelas di sisi yang berbeda, untuk menghindari insiden.

Cek SMS: ‘Bapak nggak bisa bangun dari tempat tidur‘. Degh! Segala persiapan otak untuk bekerja jadi amburadul. Pulang.

Di atas tempat tidur, Bapak tidak bisa bicara. Separuh tubuhnya tak bisa digerakkan.

Seiring kami memapahnya untuk membawa ke mobil untuk dibawa ke RS, saya perhatikan di atas bufet masih ada secangkir teh manis dan sepiring kecil kue ulang tahun saya dari hari sebelumnya: belum disentuh.

Baseball vs Bowling

Meski tanpa penjelasan dari Dokter, kami sekeluarga sudah tahu. Bapak stroke. Jika dihitung dengan serangan-serangan sebelumnya, yang sampai masuk rumah sakit, ini adalah yang ke-4 (atau ke-3, saya agak lupa).

Terdengar kata stroke, saya jadi ingat kata strike. Di Baseball, 3 strike artinya strike out alias ‘kalah’. Tapi kalau di bowling, strike adalah keberhasilan yang dinanti. Tiga strike dikenal juga dengan istilah turkey. Saya jadi lebih suka bowling.

Lagu Anak-Anak

Beberapa hari setelah dirawat di ruang IMC (semacam ICU), Bapak akhirnya boleh dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Dia masih tidak bisa bicara, hanya menggumam, menggeram dan beberapa suku kata tertentu saja yang bisa keluar dari mulutnya.

Upayanya untuk mengucapkan kalimat seringkali hanya memunculkan suara-suara aneh. Namun malam itu, sewaktu saya sedang menjaganya, ia mulai bisa menunjukkan nada. Naik-turun, tinggi-rendah suaranya sepertinya bisa diatur.

Tiba-tiba, tengah malam, dia seperti bernyanyi. Suaranya hanya kik-kook kik-kook saja, tidak jelas. Tapi nadanya mirip sebuah lagu. Meski tidak jelas juga lagu apa.

Saya jadi teringat waktu-waktu dia suka menghibur cucunya dengan memutar DVD lagu anak-anak. Bil dan Bum, kedua anak saya, biasanya akan menari atau sekadar berputar-putar sambil mendengarkan lagu itu. Bapak kadang suka ikut bernyanyi juga, kalau kebetulan hapal liriknya.

Malam itu Saya merasa dia sedang bernyanyi pada anak-anak. Selesai melantunkan nada yang naik-turun, tinggi-rendah itu ia pun tersenyum cukup lama. Mungkin anak-anak sedang bertepuk tangan, dan ia tertawa bersama mereka. Semoga saja.

Di matamu masih tersimpan //  Selaksa peristiwa // Benturan dan hembasan terpahat // di keningmu // Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras // Namun kau tetap tabah // Meski nafasmu kadang tersengal // Memikul beban yang makin sarat // Kau tetap bertahan (Ebiet G Ade/ Titip Rindu Buat Ayah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s