fiksi yang segar

Oksimoron, novel pertama Isman H Suryaman (bener kan ya yang pertama? paling nggak pertama yg terbit?). Saya bangga dan terharu (nggak lebay lho, beneran ini!) jadi salah satu yg sempat membaca naskah ini pada saat belum terbit (bahkan judulnya waktu itu masih berbeda).

Ini mungkin buku Isman yang mencarinya di toko buku paling gampang (bagi saya) . Begitu masuk Gramedia di Pejaten Village, Oksimoron ada di meja depan, pada bagian Buku Laris!

Fresh!

Setelah bertempur dengan jadwal rutinitas yang sempit, akhirnya akhir pekan lalu saya sempatkan juga menyelesaikan buku ini. Kesan paling jernih dari membaca buku ini, sama seperti karya-karya Isman lainnya, adalah: fresh.

Selalu ada kesegaran dari humor yang ditampilkan Isman.

Menariknya juga, buku itu punya ‘sihir’ membuat pembaca tak mau melepaskannya. Saya sungguh-sungguh sulit untuk melepaskan diri dari membaca buku itu saat sedang asyik membacanya.

Ada istilah B. Inggris-nya untuk buku seperti itu. Tapi saya tidak ingat dengan pasti, apakah page turner atau yg lain ya?

Fiksi

Satu kesan yang sangat kuat, dan ini dirasakan juga oleh Hes, adalah: membaca Oksimoron terasa seperti menonton film komedi atau membaca buku fiksi.

Lho? Memang buku itu fiksi kan? Maksud saya, saat membacanya saya sadar bahwa sedang membaca sebuah karya fiksi. Bukan seperti sedang masuk ke sebuah dunia / kisah hidup seseorang.

Boost

Secara keseluruhan Oksimoron layak jadi bacaan segar dan seru. Cocok untuk mereka yang butuh ‘boost up‘.

Saya berharap novel Isman bisa laris di pasaran. Sehingga, suksesnya Oksimoron akan ‘mendorong’ Gramedia untuk menerbitkan lagi BaM! (Bertanya atau Mati!), karya itu masih jadi masterpiece-nya Isman, dan lemari buku siapapun rasanya belum akan lengkap jika tak ada BaM! bertengger di dalamnya.

Envy

Jika membaca seorang yang saya kenal menerbitkan sebuah buku, saya selalu merasa kedutan iri pada jemari tangan. Ingin rasanya, setelah selesai membacanya, langsung maraton menuliskan novel yang ingin saya tulis sejak belasan tahun lalu!

(Perasaan yang sama muncul jika melihat penulis yang sebaya, atau bahkan lebih muda usia, bisa menerbitkan bukunya)

Ini rasa iri yang, menurut pendapat saya, positif. Dan perlu diarahkan supaya menjadi energi pendorong mewujudkan keinginan itu. Semoga bisa terwujud.

Advertisements

2 thoughts on “fiksi yang segar

  1. “Dan perlu diarahkan supaya menjadi energi pendorong mewujudkan keinginan itu. Semoga bisa terwujud.”

    I’ll drink to that! (Ini padanannya apa, ya? “Saya akan minum soda gembira ini demi mendoakan keberhasilanmu”?)

    Makasih apresiasinya, Cak! Salam untuk Hes.

  2. .. mumpung energi pendorongnya masih terasa segar ayo ayo ayo pasti akan segera terwujud 😀

    Salam untuk isman. Oksimoron memang bagus tapi aku ngga akan pernah lupa saat pertama kali membaca BaM! *bacaan wajib dibawa sewaktu masuk rumah sakit saat melahirkan* :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s