mengapa jengah (menulis) ?

Pertama kali saya menerbitkan buku (lewat penerbit, dan bukunya tersedia di toko buku) adalah tahun 2007. Di tahun yang sama saya menuliskan 3,5 buku lainnya, sehingga total di 2008 ada empat judul buku di rak-rak toko buku yang mencantumkan nama Wicak Hidayat di-cover-nya.

Empat tahun berlalu, sekarang sudah tahun 2011, dan tidak ada satu judulpun yang saya berhasil telurkan. Sebuah campuran dari ‘tak ada waktu’, ‘jengah’,  ‘kehabisan energi’, ‘kesibukan’ dan lain-lain direbus jadi satu ramuan kegagalan yang pasti.

Ah, betapa waktu cepat sekali berlalu. Dan kita-kita tiba-tiba sampai di persimpangan, tanpa ingat nomor angkutan yang tadi mengantarkan.

Catherine Mackenzie membuat sebuah tulisan menarik di blog Writer’s Unboxed dengan judul ‘Why We Write‘. Beberapa ide dalam tulisan itu menyentak dada saya.

“… if you’re lucky enough to have the chance to publish a second book (or anything past that first one really)… those books often feel like they are more about contractual deadlines, and advances paid out, and expectations (real or imagined) about it being as good, or better, than your first book… why did you get this chance, when so many others have tried just as hard, or harder, or longer, and failed?” (Mackenzie, 2011)

Seperti kata Mackenzie, pemikiran seperti ini bisa menghancurkan ego seorang penulis. Bersama dengan itu, kemauan dan bahkan kemampuannya untuk menulis. Pemikiran itu, setelah melalui introspeksi, adalah apa yang saya rasakan sekisaran 2008 – 2010.

Seharusnya saya mampu menyentil pikiran itu jauh-jauh sebelum ia merusak. Tapi kenyataannya, pikiran itu jadi semacam infeksi, yang kemudian merusak, yang kemudian membuat saya mengecewakan banyak teman-teman baik sepanjang perjalanan.

Untuk semua sahabat itu, saya masih berhutang permintaan maaf yang saya sendiri tak tahu bagaimana bisa mewujudkannya. Mereka telah memberikan kesempatan yang luar biasa, dan saya pada gilirannya telah membalasnya dengan berbongkah-bongkah kegagalan.

“Wasn’t this fun once? Didn’t the words fly off the page, the ideas tumbling out faster than my fingers could keep up with them?” (Mackenzie, 2011)

Saat ini, yang saya butuhkan adalah mencoba mencongkel pemikiran tadi dan membuangnya agar tak lagi jadi racun dalam kepala.

Pada akhirnya, mengapa kita jengah lalu berhenti menulis hanya bisa dijawab oleh masing-masing orang. Semua punya alasan, yang bisa jadi berbeda-beda, dan tak perlu dicari jawabannya.

Tapi mengapa kita menulis? Ini yang perlu dicari. Saat ini, saya cukup puas dengan jawaban (sementara dan sebagian) dari Mackenzie berikut ini:

I don’t have all the answers, but I can say this: we write because we see and hear …that aren’t there unless we write them down. Because the fun is there, you just have to look for it sometimes.

Because we must.

(Mackenzie, 2011)

Advertisements

7 thoughts on “mengapa jengah (menulis) ?

  1. but I can say this: we write because we see and hear … (Mackenzie, 2011)

    mungkin itu sintesis-nya Bung.
    seberapa jauh, beragam dan color-full yg kita “see dan hear” dalam beberapa tahun belakang ini.
    mungkin perlu campuran ‘warna-warna’ dasar yg baru biar jadi ‘warna’ yg lain..
    degnan liburan mungkin.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s