Mantan Penggila Game yang Masih Menggilai Game

Ketertarikan saya pada boardgame sebenarnya sudah lama. Mungkin bisa dilacak ke masa kanak-kanak ketika Ovaltine memberi hadiah boardgame dengan tema Star wars, dengan mainan plastik R2D2, Chewbacca dan C3PO yang berjalan-jalan di sebuah peta luar angkasa yang sampai sekarang hanya samar-samar saja saya ingat.

Belakangan, ketertarikan itu pindah jadi perhatian utama. Dan ketertarikan pada game digital makin berkurang. Bisa jadi ini memang faktor usia, tapi di sisi lain memang ada yang ‘hilang’ dari dunia game mainstream yang membuat saya lebih memilih melihat ke pinggiran saja.

Mungkin perasaan ini bisa digambarkan dengan reaksi saya saat menonton trailer game “Lollipop Chainsaw”: sama sekali tidak tertarik dan cenderung bosan. Bandingkan dengan dentum di dada saat menonton, serial “Watch It Played” di YouTube.

Kris Graft, dari Gamasutra, menuliskan esai yang menurut saya bisa mewakili beberapa pemikiran yang juga berkecamuk di kepala saya. (Bisa dibaca di sini: E3 2012 – The E3 of Disillusion)

The games industry is complacent in further developing its relegation as a semi-interactive Michael Bay mocking bird,” kata Graft. (Industri game sudah cukup puas dengan menempatkan dirinya sebagai pembeo semi-interaktif dari Michael bay).

Tapi jika perhatian dialihkan dari Los Angeles dan E3-nya, lalu diarahkan ke sekitar diri sendiri. Tepatnya ke perkembangan industri game dalam negeri, jelas muncul sesuatu yang jauh berbeda.

Di Indonesia, game-dev belum banyak tercemari oleh racun AAA (Triple-A, game berbudget besar yang cenderung stereotip, klise dan berfokus pada thrill kill). Kebanyakan game-dev di Indonesia membuat game dengan semangat fun yang tinggi dan menghasilkan gameplay yang seru.

Dan, mereka banyak bergerak di ranah mobile atau web game development. Wilayah “pinggiran” jika dibandingkan industri A3 tadi, namun sungguh bukan sekadar “pinggiran” kalau dilihat dari potensinya.

Jadi, catat saya sebagai “mantan penggila game”, karena sampai sekarang belum main Mass Effect 3 atau Skyrim atau apalagi judul game A3 lainnya.

Tapi jangan pernah berkata saya bukan seorang gamer hanya karena saya tidak lagi senang mengarahkan reticle untuk meledakkan kepala musuh.

Game saya sekarang ada di atas kertas, pada berbagai benda-benda yang bisa disentuh tangan dan permainan yang selalu melibatkan persahabatan.

Game saya sekarang ada di layar kecil, atau di dalam browser, dari mereka yang berani mendorong media ini lebih jauh. Ke tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.

Dan, sesungguhnya, game saya ada dalam kepala. Ketika menjalani hidup bagai sebuah quest tanpa henti dan setiap tarikan nafas adalah achievement unlocked.

(Gambar: Kucing Sumput, sebuah permainan yang sedang dikembangkan Kummara)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s