Jurnalis Menulis Game

darderdor

Industri Game di Indonesia sedang tumbuh, dan ini merupakan waktu yang menyenangkan untuk terlibat di sana. Meskipun, arah industri game Indonesia boleh dibilang masih belum jelas.

Di sisi lain, industri game secara umum (terutama di AS) sedang mengalami kejenuhan. Ini kalau kita melihat dari sisi game “Triple-A” alias game-game “hard core“. Kebanyakan yang muncul adalah game dengan tema kekerasan: dar-der-dor dan bak-bik-buk.

Sedangkan di sisi lain, game mobile sedang tumbuh dengan serunya. Dan di sini pula banyak pelaku game dalam negeri bertarung, dengan menghadirkan game di platform Android, iOS atau bahkan Windows Phone 8 dan BlackBerry.

Tapi saya sedang tidak mau nyerocos soal itu saja. Adalah kutipan Gamasutra atas pernyataan David Cage, CEO Quantic Dream, yang menggelitik saya kali ini. Dalam “Sembilan Langkah yang Harus Diambil Industri Game” versi Cage, ia mencantumkn peran Pers di Nomer 8.

Cage mengatakan, pers punya peran penting dalam menyegarkan kembali industri game. “[In the] press, we have on the one side, very clever people. They think about the industry, they analyze it, they try to see where it could go in the future. On the other side of the spectrum, you’ve got people giving scores. Just scores.”

Cage ingin pers lebih terlibat dalam mengarahkan industri, layaknya Cahiers Du Cinema, sebuah jurnal tentang film yang sedikit-banyak berperan melahirkan La Nouvelle Vague (New Wave French Cinema).

Saya nggak ngerti apa maksudnya New Wave itu, tapi menurut Cage simbiosis antara pers dan industri yang terjadi di masa itu telah menyebabkan banyak perbaikan mutu film, dan pengaruhnya konon terasa ke industri film global, bukan hanya di Prancis.

Menarik! Saya berharap Pers di Indonesia juga bisa mewujudkan hal semacam itu. Bukan sekadar memberitakan soal game, bukan sekadar memberi nilai dan penilaian atas game, tapi juga menjadi sebuah wadah dialog industri game dan membuka pintu untuk mencapai “sesuatu”, yaitu game-game yang bermutu, bermakna dan bisa dinikmati secara luas.

Harapannya, game bisa jadi bagian dari percakapan umum, seperti film, acara tivi, musik atau novel. Percakapan yang terjadi secara luas, tanpa perlu takut dicap aneh.

Harapannya, game bisa jadi media yang menyampaikan suatu pengalaman emosional yang kaya. Tidak lagi terperangkap pada dar-der-dor dan bak-bik-buk saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s