Bulan Pembakaran

Image credit: “safe” – © 2007 Paul Keller – made available under Attribution 2.0 Generic

Dulu, kalau tidak salah waktu saya masih sekolah, pernah ada yang mengatakan bahwa bulan Ramadan bagi umat islam adalah bulan pembakaran. Di bulan ini, ada kesempatan untuk membakar berbagai kesalahan (dosa, khilaf, zalim dll) yang sudah dilakukan selama setahun.

Proses pembakaran itu jelas tidak mudah. Apalagi kalau yang dibakar itu sesuatu yang besar dan sudah berkarang. Makanya, secara fisik saja ada proses puasa, menahan diri dari makan, minum dan birahi. (Belum lagi kalau bicara proses spiritualnya *whew*)

Sayangnya, proses pembakaran tidak selalu sempurna. Seringkali ada residu, seperti jelaga, arang atau abu. Hal-hal kecil (atau besar) yang tidak mungkin dibakar habis hanya dengan proses sebulan.

Itu mengapa, seorang Ustadz kalau tidak salah pernah berkata, dibutuhkan proses lanjutan pasca-ramadan. Termasuk, yang paling obvious adalah salam-salaman saat Idul Fitri. Ini dilakukan untuk menyapu sisa-sisa debu, yang berasal dari kegiatan manusia sehari-hari saat berhubungan dengan manusia lain.

Yang paling berat, saya pikir, adalah proses panjang 11 bulan menuju Ramadan berikutnya. Proses mengerik, mengikis dan mencuci arang, jelaga dan bekas pembakaran lainnya.

Bukannya membersihkan, kebanyakan orang (Ya, ya, ya, saya termasuk di antaranya) justru memilih untuk mengisi 11 bulan itu dengan menambahkan hal-hal yang layak dibakar pada Ramadan yang akan datang.

Kalau begitu, kapan habisnya dong?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s