Bicycle Race

IMG_1375

Jujur saja, saya tidak bisa naik sepeda. Oleh karena itu, pengalaman saya dengan sepeda sangat terbatas. Namun bukan berarti saya tidak suka sepeda, sebaliknya sepeda adalah salah satu pencapaian engineering yang menurut saya cukup mengagumkan. Salah satu implementasi kendaraan beroda yang patut dicatat sebagai pencapaian kebudayaan manusia yang unggul.

Maka menjadi sangat menyenangkan saat Mas Eko Nugroho dari Kummara mengirimkan sebuah boardgame dengan tema balap sepeda saat saya sedang dirundung malang ..eh.. maksudnya saat saya sedang istirahat di rumah karena aktivitas terhalang oleh patahnya tulang metatarsal di kaki kiri saya.

Game itu berjudul Um Reifenbreite, game yang menjadi pemenang Spiel Des Jahres 1992.

IMG_1374

Permainannya bertema Balap Sepeda, dan setiap pemain (maks. 4) menguasai satu tim pesepeda. Dasar mekanik game ini sederhana. Setiap pemain melempar dadu, dadu menentukan seberapa jauh pesepeda yang dikendalikannya bisa melaju.

Tapi, setiap pemain juga punya opsi untuk menggunakan kartu, yang bisa langsung memberikan angka 5 atau 6 sesuai kebutuhan. Jadi, saat mau ngebut, pemain tak semata-mata harus menunggu lemparan dadu / keberuntungan.

Lebih seru lagi, ada aturan tentang drifting, yang secara tematik berarti memaanfaatkan ruang angin di belakang pesepeda lain untuk melaju. Intinya: pemain di belakang bisa nebeng pesepeda yang sedang melaju di depan.

IMG_1373

Pada prakteknya, ada cukup banyak faktor yang membuat permainan ini cukup membutuhkan strategi. Tidak semata-mata lempar dadu dan “adu keberuntungan”, tapi ada kelihaian seperti kapan harus menempel pesepeda di depan dan kapan harus melenggang sendiri.

Lucunya lagi, kalau menggunakan aturan advanced pemain boleh curang untuk mendapatkan angka besar. Saya jelaskan sedikit:

Pemain bisa curang dengan “otomatis” memilih angka enam sebagai pengganti lemparan dadu dan tanpa mengeluarkan kartu. Ini diibaratkan berpegangan pada mobil sepanjang jarak tertentu di arena balapan.

Namun, jika curang, pemain harus mengambil sebuah kartu khusus dan mencatat angka yang muncul di kartu itu.

Di akhir permainan, jika ada yang curang, tumpukan kartu khusus tadi akan dikocok dan dipilih dua. Jika salah satu saja dari kartu itu sesuai dengan yang sudah dicatat tadi, maka poin si pesepeda yang curang akan dihanguskan.

Kartu khusus itu disebut Kartu Kamera, diibaratkan sebagai kamera yang memotret aksi curang yang dilakukan pesepeda.

Game ini, ditambah gaya ilustrasinya yang khas komik eropa, memang sungguh menyenangkan untuk dimainkan. Secara keseluruhan game ini malah menimbulkan rasa nostalgia bagi saya, padahal saya belum pernah memainkan game ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s