Mat Goceng dan Kisah Kemenangan Belanda

IMG_2140[1]Selalu seru untuk melihat karya teman-teman, atau saudara se-Tanah Air. Apalagi kalau karya itu terkait dengan hal-hal yang menarik minat saya.

Misalnya, saat melihat teman-teman Developer membuat game. Jadi teringat saya pernah menjadi juri dalam Nokia Mobile Games Developer War, kalau tidak salah MGDW yang pertama kali diadakan.

Masih teringat betapa saya sebenarnya terkesan dengan game-game tersebut. Meskipun, sebagai juri, mau tidak mau harus menilai mana yang lebih baik dari yang lain dengan se-objektif mungkin. Padahal kalau tidak, mungkin semuanya sudah saya menangkan saja! :p

Momen mengesankan berikutnya adalah saat saya mengunjungi Indonesia Bermain, sebuah event luar biasa yang sempat digelar di Bandung. Di acara itu saya sempatkan membeli Punakawan, sebuah game karya Mas Eko Nugroho.

Maka makin seru ketika, beberapa waktu lalu, saya dan tim dari KompasTekno berkesempatan memainkan Mat Goceng. Card game terbaru dari teman-teman Kummara, kali ini diterbitkan melalui Manikmaya Games.

Hidden Role

Salah satu mekanik seru dalam Mat Goceng adalah “peran tersembunyi”. Mekanik ini kondang dalam game The Resistance atau Saboteur.

Intinya, pemain akan memiliki peran yang tidak diketahui oleh pemain lain. Sepanjang permainan, hal ini akan menambah ketegangan karena pemain tidak langsung tahu apakah yang dihadapinya adalah teman atau lawan. Apalagi, dalam Mat Goceng, setiap peran akan memiliki tujuan (victory condition) yang berbeda.

Begini, kurang lebih, gambaran permainan Mat Goceng:

  • Pemain (3-6 orang) akan memiliki peran yang berbeda.
  • Pada gilirannya, seorang pemain akan mengajukan duel dengan pemain lain.
  • Pertarungan dilakukan dengan kartu jurus.
  • Ada kalanya pemain akan membutuhkan bantuan dari pemain lain untuk meneruskan langkahnya.
  • Pemain lain bisa membantu dengan tawar-menawar “imbalan”, bisa berupa koin (disediakan dalam permainan) atau hal lain.
  • Bisa saja pemain lain membantu tanpa imbalan.
  • Pemain yang kalah duel akan kehilangan “nyawa”, dalam hal ini diwakili oleh gelas kopi di belakang kartu peran.
  • Jika kopinya tinggal satu gelas, peran pemain akan terungkap.

Nah, menariknya adalah, saat pemain membutuhkan bantuan untuk mengalahkan pemain lain. Karena, bisa jadi pemain yang dibantu memiliki peran yang seharusnya musuh dari peran pemain yang minta bantuan.

Eh, Belande!

Latar tokoh dan cerita dari Mat Goceng adalah Indonesia di masa penjajahan Belanda, mungkin tepatnya di area sekitar Batavia. Maka, mungkin sudah bisa ditebak, salah satu tokohnya adalah penjajah Belanda.

Sialnya kalau dapat peran Belanda, yang namanya Rijkaard Cere, adalah ia kemungkinan besar bakal jadi target serangan pemain lain saat perannya terungkap. Dan kalau Meneer Rijkaard Cere butuh bantuan, kemungkinannya kecil akan ada yang membantu. Lagian, siapa yang mau bantuin Belande?

Meski bisa dimainkan bertiga, Mat Goceng paling seru dengan 4 pemain atau lebih. Kalau hanya tiga pemain, biasanya akan lebih cepat menebak siapa pemain yang memiliki peran tertentu.

Saya juga sangat menyarankan untuk bermain game ini lebih dari satu kali dalam satu sesi. Ini akan membuka kemungkinan pemain merasakan peran yang berbeda, sehingga makin terasa serunya.

Lebih seru lagi dari permainan ini adalah cerita yang bisa timbul dari permainan (emerging stories). Cerita ini muncul dari momen-momen dalam game. Seperti yang pernah saya alami berikut ini:

Jadi dalam permainan di atas, kami bermain 5 orang. Dengan peran sebagai berikut: Mat Goceng (bertugas melindungi Nyi Kencleng), Nyi Kencleng (bertugas mengumpulkan koin), Wan Fulus (bertugas mengumpulkan koin), Bang Codet (bertugas menghabisi Mat Goceng) dan Rijkaard Cere (bertugas menghabisi Nyi Kencleng).

Menjelang akhir permainan, Mat Goceng berduel dengan Rijkaard Cere, tapi kalah. Kemudian giliran Nyi Kencleng, yang seharusnya dilindungi Mat Goceng.

Tapi, melalui jebakan kondisi (alias udah napsu banget pengen ngalahin Belande nih Bang!), Mat Goceng justru mendesak Nyi Kencleng (kartu tinggal satu) untuk menyerang Rijkaard Cere (kartu full).

Wan Fulus sudah kehabisan kartu dalam giliran sebelumnya. Tersisa tinggal Bang Codet (kartu masih cukup banyak) dan Mat Goceng (kartu full).

Jelas, Mat Goceng akan membantu Nyi Kencleng, dan merasa cukup pede dengan kondisi kartu full. Bang Codet memilih membantu Rijkaard Cere karena sebelumnya sudah saling membantu.

Rupanya, kartu Mat Goceng tidak sebagus kombinasi Rijkaard Cere dan Bang Codet. Walhasil, permainan berakhir dengan habisnya nyawa Nyi Kencleng (dan kekalahan kedua pemain yang berperan sebagai Mat Goceng dan Nyi Kencleng).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s