Dear JK Rowling, Please Make Order of The Phoenix: The Series

Dalam sebuah wawancara JK Rowling konon mengakui bahwa Harry Potter harusnya menikah dengan Hermione Granger. (http://www.theverge.com/2014/2/2/5370926/j-k-rowling-admits-harry-and-hermione-shouldve-ended-up-together).

Ini kali kedua (yang saya tahu) Rowling membuat pengakuan mengejutkan tentang karyanya pasca seri novel Harry Potter rampung. Sebelumnya adalah pengungkapan bahwa Albus Dumbledore adalah seorang yang menyukai sesama jenis.

Pernyataan Rowling seperti menegaskan satu-satunya bagian yang menurut saya mengecewakan dari seri Harry Potter: bab paling akhir / epilog dari novel terakhirnya. Bab yang kalau tidak salah disimpan oleh Rowling sejak menuliskan buku pertama itu bagaikan sebuah manuskrip yang belum disunting sama sekali. Malah, waktu pertama saya membacanya, seperti sebuah fiksi karya penggemar yang lazim beredar di internet.

Seri Harry Potter adalah salah satu serial fiksi yang saya sukai (sampai sekarang) dan sedikit-banyak punya dampak pada diri saya. Menurut saya Rowling cukup tepat memilih pasangan Ron Weasley + Hermione Granger, sedikit menyimpang dari pakem “.. the hero gets it all.. ” ala film Hollywood.

Juga saya suka dengan pilihan Rowling mengangkat Neville Longbottom sebagai pahlawan mendadak yang membunuh Nagini. Bahkan, di bukunya, karakter Neville menurut saya cukup besar perannya (dibandingkan dengan di film). .

Kalau yang Rowling maksud adalah Harry seharusnya “jadian” sama Hermione di seri novelnya. Sebagai seorang penggemar saya merasa tidak sreg. Tapi kalau yang dimaksud adalah saat di layar lebar, memang harus diakui ada chemistry yang lebih kuat antara Harry Potter / Daniel Radcliffe dengan Hermione / Emma Watson, dibandingkan Hermione dengan Ron Weasley / Rupert Grint.

Jelang akhir tulisan ini saya tiba-tiba merasa menyesal. Mengapa saya menulis soal Harry Potter, bagai seorang fans yang kegerahan? Apa hak saya untuk uring-uringan dengan pernyataan Rowling?

Mungkin karena, seperti kalimat terkenal Roland Barthes itu: “Pengarang sudah mati”. Kalimat yang saya pernah dengar diartikan sebagai: “setelah sebuah karya dihasilkan, maka sang pengarang sudah tak punya tempat lagi di dalam teks itu. Pemahaman atas teks itu sepenuhnya diserahkan ke pembaca.”

Dengan demikian, saya merasa Rowling mengkhianati pembaca (yaitu saya termasuk di dalamnya) dengan “bangkit dari kubur” dan mengacak-acak teks yang sudah rampung itu.

Sudahlah Bu! Saya justru menantikan karya Anda dengan latar dunia Harry Potter namun mengambil lakon yang berbeda.

Mungkin, kalau boleh usul, akan keren sekali jika ada seri novel: Order of the Phoenix, yang mengisahkan Dumbledore muda bersama James Potter, Lily Potter dll menghadapi Voldemort dalam puncak kekuasaannya dulu. Seri novel yang memiliki pembaca lebih dewasa, tentu saja.

Bu Rowling! Please make this happen!

( Image: © User:Colin / Wikimedia CommonsCC-BY-SA-3.0 )

Footnote: Oke oke, yang diomongin Barthes sebenarnya adalah soal menilai sebuah karya. Bahwa sebuah karya tak sepantasnya dinilai berdasarkan apa yang diniatkan oleh pengarangnya, tapi apa yang diterima oleh pembacanya. Bahwa sesungguhnya pembaca tak mungkin bisa menilai apa niat pengarangnya hanya dari membaca teksnya saja. Tapi saya memilih untuk meminjam secara serampangan ucapan itu di sini supaya, well supaya saya bisa menggunakan frasa bangkit dari kubur tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s