Tentang Kematian Seorang Pimpinan

greyhairDalam seumur karir saya, yang baru 11 tahun di dunia Jurnalisme Online, sepertinya baru kali ini mengalami kematian seorang pimpinan langsung. Pada Rabu, 27 Agustus 2014, Pemimpin Redaksi Kompas.com, Taufik Hidayat Mihardja, telah meninggal dunia. 

Ada banyak cerita tentang Mas Vik — panggilan akrab teman-teman di redaksi untuk almarhum — dan saya bukan orang yang paling tepat untuk menceritakannya. Karena, meskipun secara hierarki saya ada di bawah naungannya, interaksi kami terbilang minim. 

Beberapa “insiden” pertemuan kami diwarnai dengan saya menunduk tersipu di ruangan rapat redaksi. Karena alm. memuji secara halus apa yang dilakukan tim KompasTekno. Padahal, bagi saya, apa yang kami lakukan adalah hal normal untuk sebuah media online (running berita, update di luar waktu kerja, menggali topik ke berbagai angle dll.). 

Percakapan antara kami pun belum pernah sampai di taraf mendalam. Saya terus terang belum pernah bisa menebak isi kepala alm. (apalagi isi hatinya). Sesuatu yang sedikit banyak saya sesali.

Jujur, saya sempat penasaran, mau dibawa ke mana sih Kompascom ke depannya? Adakah sebuah visi media dari isi kepala seorang Taufik Mihardja sebagai pucuk pimpinan, terhadap situs yang harus diakui mengusung beban nama besar media besar.

Dan, yang juga saya sangat penasaran, apakah alm. sebenarnya percaya pada saya untuk “menggowes sepeda roda tiga” yang bernama KompasTekno ini atau tidak? Pertanyaan yang, buat saya pribadi, belum pernah benar-benar terjawab. 

Rasanya di masa-masa awal saya bergabung ke Kompascom, pernah ada kesempatan memaparkan arah KompasTekno yang saya tawarkan, di hadapan alm. dan beberapa petinggi lain. Tapi di luar itu, interaksi kami sebatas formalitas rapat atau tegur-sapa sopan di lingkungan kerja. 

Beberapa bulan terakhir, terutama setelah alm. resmi 100% di Kompascom (melepaskan jabatan di KompasTV), saya merasa alm. adalah mesin besar yang mendorong Kompascom. Terutama dalam liputan-liputan Pilpres, yang harus diakui mencatatkan sukses besar untuk tempat saya bekerja ini. 

Sukses itu akan terus menjadi legacy dari dirinya. Legacy, yang menurut saya harus dijaga, berupa komitmen pada isu terkini, menjawab keingintahuan pembaca, menghadirkan update secepat mungkin dengan tetap melihat situasi kondisi, cause effect dan relevansi. 

Sebuah semangat yang dikawalnya selama masa Pilpres, semangat memacu mesin di kecepatan tinggi, yang sudah sewajarnya dimiliki oleh media seperti Kompascom. 

Sebuah semangat untuk bekerja bukan berdasarkan kuota, atau target-target kuantitatif belaka, tapi berdasarkan naluri jurnalistik untuk menghadirkan yang terbaik!!

Tidak seperti teman-teman yang lain, saya tidak berkesempatan mendapatkan “pesan” dari alm. di hari-hari sebelum ia berpulang. Kata-kata terakhirnya soal KompasTekno tidak istimewa.

Namun itu, saya berharap, merupakan pertanda bahwa alm. memang sudah menetapkan hatinya untuk percaya pada kami di tim KompasTekno. 

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. 

Semoga hal-hal baik dari almarhum menjadi warisan bagi kami yang ditinggalkan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s