Versi yang Tidak Disensor dari Kolase di KompasTekno

Berikut ini adalah versi asli dari kolom Kolase di KompasTekno, yang tidak jadi saya muat karena saya merasa gagasan di dalamnya bisa disalahartikan. Maka saya melakukan sensor pada diri saya sendiri.

Untuk melihat versi yang dimuat, ada di: http://tekno.kompas.com/read/2015/05/07/16560007/Menekan.Tombol.Undo.Pelajaran.Sejarah 

Silakan menikmati dan nilai sendiri, apakah versi ini memang terlalu “jahat”?

kolasesejarah
Seandainya Ada Tombol “Undo” untuk Pelajaran Sejarah

Saat sejarah justru menghasilkan bangsa yang minder, mungkin sudah saatnya menekan tombol Undo?

Semoga masih ingat, sewaktu saya bercerita tentang dua bocah yang gemar menonton YouTube, mungkin bisa ditebak akun YouTube (Google) siapa yang mereka gunakan untuk mengakses video-video tersebut? Siapa lagi kalau bukan Bapaknya. (http://tekno.kompas.com/read/2015/04/27/20050007/Teriakan.yang.Pecah.di.Pagi.yang.Cerah)

Hal ini jadi sedikit masalah ketika saya hendak mengakses YouTube. Gara-garanya, di situs tersebut ada sebuah algoritma yang akan memberikan rekomendasi video.

Salah satu yang jadi pertimbangan rekomendasi itu agaknya adalah rekam jejak alias sejarah video yang pernah ditonton di YouTube oleh akun tersebut.

Akibatnya, rekomendasi yang muncul setelah akun saya “dibajak” akan banyak menampilkan berbagai “Let’s Play” tentang Minecraft.

Karena, bagaimana pun, saya tidak menggemari “Let’s Play” yang sama, muncul lah rekomendasi yang sangat tidak relevan.

Beruntung, YouTube punya fasilitas untuk melihat daftar video yang pernah ditonton (History) dan menghapus isi daftar tersebut.

Aksi bersih-bersih ini kemudian jadi rutin dilakukan setelah weekend. Ya, hitung-hitung sambil memperhatikan juga video apa saja sih yang sudah ditonton mereka.

Sejarah dan Stereotipe

Sebuah algoritma biasanya disusun berdasarkan cara berpikir manusia. Termasuk algoritma rekomendasi tadi.

Dari situ, kita bisa mengintip (atau tepatnya, menduga-duga) cara otak memahami sejarah. Bahwa, sedikit banyak, sejarah sebuah bangsa bisa berpengaruh pada perangai bangsa itu.

Jika orang Amerika (Serikat) terkenal dengan stereotipe kasar, mau menang sendiri dan arogan itu bisa jadi karena di alam bawah sadar mereka percaya pada sejarah sebagai negeri koboi.

(Atau, persepsi bahwa orang Amerika adalah arogan dan hanya mementingkan diri sendiri itu muncul dari populernya ‘sejarah’ koboi di negeri itu?)

Contoh lain, orang Inggris punya stereotipe sebagai kaku, angkuh dan taat pada aturan. Sesuai dengan sejarah bangsanya yang mempertahankan sistem monarki hingga kini.

Tapi contoh yang buat saya cukup menyedihkan adalah betapa mindernya bangsa Indonesia pada orang kulit putih (dan orang asing lainnya).

Misalnya, kita kadang begitu bangga dengan kemampuan Bahasa Inggris, mengenal budaya dan nuansa budaya bangsa asing, tapi lupa (dan menganggap inferior) pada akar budaya sendiri.

Salah satu pemikiran sok tahu saya adalah: ini tak lepas dari persepsi atau pengetahuan kita akan sejarah bangsa ini.

Salah Paham Sejarah

Satu “salah paham” besar sejarah yang masih sangat kuat terpatri di kepala saya adalah bahwa Indonesia mengalami penjajahan selama 350 tahun.

Bangsa macam apa yang rela dijajah hingga ratusan tahun?

Hal ini secara bawah sadar menguatkan keminderan kita saat berhadapan dengan bangsa asing.

Keminderan yang kemudian muncul dengan banyak bentuk. Termasuk kebanggaan berlebih pada semua hal yang berbau asing atau sebaliknya, kebencian berlebih pada semua yang asing.

Sekali lagi ini cuma dugaan saja, yang muncul dari membaca pola-pola di masyarakat. Tentu dugaan ini tidak mungkin 100 persen benar.

Tapi ada gunanya juga untuk melihat sejarah secara lebih jernih. Bahwa datangnya bangsa Eropa di wilayah yang sekarang Indonesia awalnya adalah untuk tujuan dagang.

Dominasi pedagang bersenjata itu bergerak perlahan, dari satu wilayah ke wilayah lain. Pada saat yang sama hal itu tidak bisa serta-merta diartikan sebagai penjajahan.

Kolonialisme baru terjadi setelah VOC — selaku kekuatan dagang bersenjata yang paling dominan di kawasan ini pada masanya — bangkrut.

Perusahaan yang bangkrut itu kemudian aset-asetnya diambilalih oleh negara dan menjadi koloni bernama Hindia Belanda. Ini terjadi di tahun 1800.

Di tahun 1900-an barulah gagasan soal Indonesia, sebagai bangsa, muncul. Gagasan yang patut disyukuri telah bertahan hingga sekarang.

(Rincian soal sejarah bangsa, betapapun mengasyikkannya, bukan bagian dari cakupan kolom yang serba salah ini.)

Undo dan Clear History

Sebelum melantur terlalu jauh, mari kita anggap bahwa pemahaman sejarah Indonesia sebagai bangsa yang rela dijajah ratusan tahun itu memang telah berpengaruh pada perangai bangsa ini. Anggap saja begitu.

Jika demikian, bukankah akan menyenangkan seandainya saja ada sebuah tombol, yang bisa digunakan untuk membersihkan sejarah bangsa.

Seperti fitur History di YouTube, kita bisa memilih bagian mana dari sejarah yang patut dihapus dan bagian mana yang tidak.

Di dunia digital, menghapus sejarah memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Sejak sebuah peranti penyunting teks buatan Xerox, yang bernama Bravo, menyertakan perintah Undo pada tahun 1974.

Kombinasi “Ctrl + Z” adalah penyelamat bagi banyak pengguna komputer sejak dulu. Ia memungkinkan sebuah kesalahan “dihapus” dan kondisinya kembali ke sebelumnya.

Dengan makin getolnya manusia menggunakan internet dan media sosial, History menjadi fitur yang penting.

Postingan lawas di Twitter, Facebook atau jejaring sosial lainnya bisa menjadi rekam jejak negatif bagi citra diri seorang pengguna.

Layanan menghapus jejak dan sejarah online pun banyak tersedia. Juga fitur-fitur dengan tujuan serupa disediakan di berbagai layanan media sosial.

Melahirkan Narasi Baru

Kembali ke sejarah bangsa, fitur tersebut sebenarnya sudah ada, tapi syaratnya harus mau melihat satu bangsa secara utuh, bukan dari sudut pandang perorangan saja.

Maksudnya begini, kalau pada diri sendiri, mungkin kita bisa berkata: saya tidak akan lupa pada apa yang sudah saya alami.

Tapi secara kolektif, bangsa bisa di-Undo dan Clear History. Salah satu caranya adalah melalui kurikulum pelajaran di sekolah.

Apabila kita mau mengajarkan sejarah yang lebih rinci, jujur dan obyektif — bukan sekadar penyederhanaan yang berlebihan — bisa dimunculkan narasi baru.

Usulan saya, narasi itu adalah: bahwa bangsa ini bukan dijajah selama 350 tahun, tetapi bahwa waktu yang ratusan tahun itu adalah bagian dari proses lahirnya bangsa ini. Bangsa yang lahir dari gagasan besar tentang keberagaman.

Jika demikian, Sumpah Pemuda dan segala yang terkait itu, serta Bhinneka Tunggal Ika, adalah hal-hal yang lebih penting untuk ditekankan daripada kolonialisme.

Dari pondasi keberagaman itu kemudian kita bisa membangun persepsi diri yang lebih baik. Tak perlu lagi minder menghadapi yang asing, karena sejak dulu kita adalah bangsa yang mencintai perbedaan.

Butuh waktu dan tenaga untuk melahirkan narasi baru tentang bangsa ini. Tapi perlahan saya yakin bisa, mengubah persepsi diri dari bangsa yang dijajah terlalu lama ke bangsa yang berakar pada keragaman.

Catatan:

Tentu sepenuhnya perlu disadari bahwa gagasan “menghapus sejarah” adalah sesuatu yang bisa berbahaya. Tulisan ini semata-mata ingin mengajak untuk melihat perspektif yang berbeda, tanpa menghilangkan fakta-fakta.

Tulisan ini adalah bagian dari seri kolom bertajuk Kolase.

Biasanya, Kolase terbit setiap Senin, tapi minggu ini agak terlambat karena satu dan lain hal. Andai saja bisa, mungkin ‘sejarah’ soal keterlambatan itu akan dihapus.

Tulisan ini menampilkan opini pribadi dari Editor KompasTekno, Wicak Hidayat. Opininya tidak menggambarkan opini perusahaan. Penulis bisa dihubungi lewat blog wicakhidayat.wordpress.com atau twitter @wicakhidayat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s