Kepunahan Massal, Kepunahan Media Massa?

20140122-084528.jpg

Kepunahan massal:

Mass extinctions are periods in Earth’s history when abnormally large numbers of species die out simultaneously or within a limited time frame. The most severe occurred at the end of the Permian period when 96% of all species perished.

(Kutipan tadi dicatut langsung dari situs BBC, supaya tulisan ini ada kesan bermartabat dan seakan-akan kredibel)

Manusia, bisa jadi, adalah mahluk pertama di bumi yang menyadari akan kemungkinan kepunahan massal yang bakal menimpa mereka di masa depan.

Manusia, dengan segala akalnya, kemudian berusaha mencegah hal itu terjadi.

Bukan hanya secara literal tapi juga kepunahan metaforikal (saya nggak tahu itu istilah yang benar atau bukan).

IMG_20151208_133020.jpgMisalnya begini, waktu saya kuliah dulu ada satu buku yang sering disebut-sebut, judulnya “The Fall of Advertising and the Rise of PR

Saya belum pernah baca buku itu, tapi ia menjadi rujukan untuk menyebut perubahan yang terjadi di dunia komunikasi massa saat itu, saat ini dan mungkin juga nanti.

Iya, ada yang mengatakan bahwa itu kan cuma judul-judulan, untuk menarik perhatian orang membeli bukunya, atau setidaknya untuk mengundang diskusi.

Tapi, ketakutan akan kepunahan memang sering menjadi pendorong manusia untuk melakukan sesuatu. Sayangnya, sesuatu itu tidak selalu produktif.

Atau, benarkah demikian?

Seorang sastrawan, yang namanya cukup tenar dan reputasinya pun demikian, beberapa waktu lalu menuliskan sebuah esai yang dimuat di suratkabar tempatnya bekerja.

Esai atau opini itu lalu memicu reaksi dari banyak pihak.

(Soal apa isinya dan apa reaksinya, silakan baca rangkumannya )

Wacana yang menarik, buat saya, bukan soal senjakala mediumnya (apakah memang era cetak sudah usai?) apalagi soal mana medium yang lebih baik (cetak vs online vs siar). Ada hal lain yang membuat saya berpikir.

Hal yang saya maksud adalah kepunahan media.

Ya, ini pernah jadi perbincangan saya dengan beberapa rekan dalam beberapa kesempatan, tak kecuali saat pulang dari perjalanan ke Lembah Silikon nan mistis dan eksotis itu.

IMG20141020143637Pertanyaannya begini: apakah media (dalam bentuknya yang sekarang, baik industrinya maupun formatnya) sedang di ambang kepunahan?

Ingat, saya nggak bilang hanya media cetak saja lho. Tapi media massa dalam arti konvensional yang selama ini sudah dikenal.

Artinya, apakah bentuk media massa yang ada sekarang sebenarnya sedang digantikan oleh bentuk “media baru” yang tumbuh dari inovasi di Lembah Silikon dan dunia digital serba kinclong itu.

Maka berubah, dalam perspektif ini, tidak terbatas pada pindah format, pindah medium, tapi berubah dalam hal praktek-praktek industri dan pekerjaannya.

Dengan pikiran seperti itu, yang saya suka dari perdebatan senjakala beberapa waktu lalu adalah tulisan Om Nezar dari Jakarta Post yang (sepemahaman saya) menegaskan tentang perlunya semangat Jurnalisme bertahan.

Jurnalisme yang dimaksud apa? Wah, saya tidak cukup pengalaman dan kualifikasi untuk menjawab itu.

Intinya begini, mungkin: dalam menjalani perubahan, kita harus cermat dalam memilih hal-hal apa saja yang mau diubah, harus diubah dan sebaliknya, hal-hal apa yang harus dipertahankan.

Teorinya seperti evolusi saja, hukum alam yang menghasilkan cabang primata bernama manusia itu telah membuktikan bahwa perubahan tidak selalu harus total.

Manteranya kan survival of the fit enough, bukan survival of the fittest.

Jadi dalam menghadapi era kepunahan ini, kami (atau kita?) sebagai pelaku media massa, harus bisa menentukan (atau lebih tepatnya, berani mengujicoba) apa sih yang bisa dipertahankan dan apa yang harus diubah.

Dalam hal ini, jangan ada haram-haraman. Jangan pilah-pilih. Semua dan segalanya harus dikategorikan sebagai: bisa berubah!

Tak perlu ada kata-kata: “kan memang seharusnya begini” atau “dari dulu sudah begini caranya”. Semua dan segala boleh ditimbangulang, diobrak-abrik dan dilahirkan kembali.

 

Tulisan ini jelas kalah abu kalah arang dari esai-esai dalam perdebatan senjakala. Ini hanya lintasan pikiran, yang belum cukup menjelaskan apa yang dimaksud sebagai kepunahan media massa itu, dan apakah memang benar akan terjadi atau hanya imajinasi liar bocah dungu bernama Wicak Hidayat ini saja.

Tapi, itulah nikmatnya era digital yang serba kinclong ini, sebuah tulisan dari si dungu ini bisa terbit seenaknya, tanpa menunggu rapat redaksi, pertimbangan dewan yang dimuliakan atau apa-apa.

Hanya sekelebatan saja, saya bisa mendorongnya “terbit”. Perkara ada yang baca atau tidak, well, itu lain soal.

 

Tambahan: sekadar mau pamer sedikit, foto yang ketiga itu adalah salah satu bentuk awal suratkabar, saya potret di sebuah museum di Jerman, Zollverein Museum kalau tidak salah namanya, di 2014 lalu. Ia diletakkan di satu ruangan yang sama dengan mesin cetak Gutenberg dan sejarah percetakan massal dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s