Teriak, Gujrak-gujrak dan Lemahnya Ingatan

pixlr_20160118135238151

Lagi membaca buku “I Found My Friend“, sebuah buku tentang Nirvana yang berisi kesaksian dari orang-orang yang pernah bertemu dengan kuartet trio grunge Seattle itu.

Jadi terkenang lagi masa-masa masih muda. Karena baru kenal sama Nirvana di usia remaja, saya nggak pernah kesampaian nonton konser ala-ala grunge / alternative. Pertama, tentunya, karena ngga ada dana (nabung? well, bukan keahlian saya). Kedua, karena masih di bawah umur.

Tapi ini nggak bikin kami (saya dan beberapa temen) berhenti menikmati musik mereka. Termasuk dengan bodyslam dan moshing seadanya di acara-acara sekolah. Ya tentunya dengan sembunyi-sembunyi dan jangan sampai ketahuan guru. (Ah, masa sekolah…)

Gara-gara baca buku itu juga, saya jadi mendengarkan ulang Nirvana dkk. Terus jadi pengen ngegujrak-gujrak, banting badan dan menganggukkan kepala dengan sangat kencang. Tapi, umur.

Bagusnya buku ini adalah, pembaca dibawa ke masa-masa di mana Nirvana belum jadi. Jangankan mitos, bahkan banyak kesaksian soal Nirvana yang menyebut musik mereka “jelek” atau “berantakan”.

Pembaca dibawa untuk melihat perkembangan grup itu dari sudut pandang orang lain. Di sini kita sebagai pembaca akan menjadi pengamat, turis, yang mengetahui Nirvana hanya dari ujaran orang-orang.

Bukan hal aneh ketika ada ujaran yang saling bertentangan. Namanya juga ingatan, tidak semua orang punya ingatan yang sama akan peristiwa yang sama.

Bayangkan, kalau untuk hal seperti ini saja orang bisa punya ingatan yang berbeda-beda, bagaimana dengan hal-hal yang besar tapi semrawut seperti peristiwa teror kemarin?

Sudah sangat wajar dan tak bisa dihindari kalau kita melihat orang punya pendapat dan bahkan ingatannya masing-masing soal peristiwa itu.

Ada sebuah adegan yang menarik dari Jessica Jones (01:08), di adegan sarapan itu digambarkan seorang tetangga Jessica (Mrs De Luca) menghampiri tempat Jessica sarapan bersama Kilgrave:

De Luca: I knew something terrible was gonna happen. Not a day goes by that I don’t regret not warning you. You’ve no idea what a burden I’ve had to live through all these years.
Kilgrave: Did you really have a sense that that terrible accident was gonna happen? Tell the truth now.
DeLuca: No, I… didn’t.
Kilgrave: Then why would you say such a horrible thing?
DeLuca: It makes me feel important.
Kilgrave: Isn’t that a shitty thing to do? Say it.
DeLuca: Yes, it is.
Kilgrave: What would you want to do to someone who said that to you?
DeLuca: I’d want to slap them.

Read more at: http://transcripts.foreverdreaming.org/viewtopic.php?f=500&t=23900

Adegan itu menjadi pengingat, bahwa dalam sebuah peristiwa besar, ada keinginan dari setiap orang untuk menjadi penting. Apalagi di era socmed seperti sekarang ini.

Tak heran jika orang-orang seperti berlomba-lomba nge-share sesuatu di hari itu. Belum peduli soal benar atau tidaknya.

Dan tidak heran juga ketika kemudian ada yang mengarang-ngarang informasi, entah dengan motivasi apa (selain ingin dipandang penting dan “bermakna”).

Memang benar kata orang bijak: perjuangan melawan diri sendiri adalah yang paling berat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s