Tentang Kematian Seorang Teman

By Candle LightSeorang teman, wartawan, yang sama-sama menyelami dunia telekomunikasi dan teknologi, telah meninggal dunia awal bulan ini. Kematiannya memukul saya secara personal. Mungkin semacam pengingat bahwa keberadaan kita — mahluk rapuh bernama manusia ini — memang tak seberapa di dunia. Manusia itu cuma debu-nya debu.

Kabar kematian teman itu datang mendadak. Pertama-tama membuat saya tidak percaya, tidak benar-benar yakin bahwa hal itu telah terjadi. Beberapa teman saya hubungi, teman-teman yang memang pernah sama-sama di lapangan dulu. Benar! Kata mereka. Lalu rencana-rencana kecil soal kunjungan ke pemakaman atau percakapan nostaljik tentang masa-masa lalu. Dan, yang paling menekan di dada: “bagaimana keluarganya?”

Jelas ini jadi persoalan yang langsung menggerus kepala. Keluarganya? Ya, keluarganya. Keluarganya kurang lebih sama dengan keluarga saya, masih di awal-awal memulai, sedang bersiap untuk menyerbu masa depan penuh harapan. Anak-anaknya ada yang seumuran dengan anak kami. Mau tak mau pikiran ini langsung diamuk oleh paralel-paralel, kesamaan-kesamaan dan yang paling buruk “bagaimana jika – bagaimana jika”.

Kembali tertampar! Betapa manusia ini rapuh, dan saat waktunya habis, maka yang bisa disisakan oleh debu di permukaan debu ini hanya debu-debu juga. Lalu habis begitu saja tertiup angin!?

Dan memang betapa singkatnya jalan ini. Jangankan “hanya mampir minum kopi”, hidup itu hanya sekedipan mata.

Kuat-kuat berjanji dalam hati. Di luar yang kita lakukan untuk memperkaya diri, menikmati hidup dan lain-lainnya, sisakan waktu untuk “memperkaya hidup orang lain” untuk “berbagi pengetahuan (meskipun pengetahuan diri sendiri belum sampai setetes air pula)”.

Berjanji untuk mau peduli, jangan sampai perjalanan sang debu yang tidak ada artinya ini kemudian benar-benar tak ada artinya juga buat orang lain.

Dan jangan merengek. Jangan “garuk-garuk tembok” dan menghempaskan tubuh ke kasur atas nama pasrah saat ada rintangan di depan mata. Hidup itu perjalanan yang hanya sebentar, apa iya mau dihabiskan hanya untuk tidur-tiduran?

Untuk teman yang sudah lebih dulu mangkat, Almarhum Api, saya hanya bisa mengirimkan doa. Seperti dikatakan seseorang pada pemakaman itu, setiap kematian adalah pelajaran bagi yang ditinggalkan. Semoga kali ini pun saya bisa belajar banyak. Amiin.

(Foto: By Candle Light | Elizabeth Ashley Jerman | https://flic.kr/p/bzrYgZ | https://creativecommons.org/licenses/by/2.0/ )

I Believe In This Place

Tugu Selamat Datang Depok (CC BY Serenity / http://commons.wikimedia.org/wiki/User:Serenity )

Mungkin sudah tertanam dalam DNA banyak manusia untuk terikat pada tempat dia dilahirkan. Seperti juga saya kemudian terikat dan memiliki perhatian lebih pada tempat lahir sekaligus tinggal saat ini: Depok.

Saya percaya Depok punya kemampuan untuk jadi besar. Bukan hanya percaya, lalu duduk topang dagu sambil minum kopi susu, saya berusaha melakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Setidaknya di hal-hal kecil yang bisa saya lakukan.

Itu kenapa saya akan tetap giat di Code Margonda dan berbagai ide gila yang mungkin lahir dari sana.

Pertama-tama adalah yakin dulu. Yakin bahwa ada sesuatu yang positif dari tempat ini, yang bisa digelorakan.

Kemudian yakin, bahwa ada orang-orang yang punya pikiran sama di sini. Mereka yang mampu melepaskan diri dari “macet” serta citra-citra lain yang bagaikan jelantah di kulit pemikiran semua orang tentang Depok. Mereka yang mau mencuci citra “macet” dan lain-lain itu menjadi “menyenangkan”.

Saya pun yakin bahwa warga depok ini sedang tumbuh, membangun akarnya sendiri di tanah ini. Karena tanah ini memang tak punya akar yang kuat. Tidak seperti Jogja, Solo, Bandung atau bahkan Jakarta. Akar yang sedang tumbuh dan mencari bentuk, sebuah komunitas sub-urban yang kental dengan pengaruh urban Jakarta namun tetap bertahan pada nilai-nilai kekeluargaan dan “pedesaan” khas wilayah pinggiran.

Modal utamanya adalah yakin, setelah itu bergerak dan bertindak. Gagal pun tak jadi soal, yang penting tetap yakin, bergerak dan bertindak.

Aamiin.

Dear JK Rowling, Please Make Order of The Phoenix: The Series

Dalam sebuah wawancara JK Rowling konon mengakui bahwa Harry Potter harusnya menikah dengan Hermione Granger. (http://www.theverge.com/2014/2/2/5370926/j-k-rowling-admits-harry-and-hermione-shouldve-ended-up-together).

Ini kali kedua (yang saya tahu) Rowling membuat pengakuan mengejutkan tentang karyanya pasca seri novel Harry Potter rampung. Sebelumnya adalah pengungkapan bahwa Albus Dumbledore adalah seorang yang menyukai sesama jenis.

Pernyataan Rowling seperti menegaskan satu-satunya bagian yang menurut saya mengecewakan dari seri Harry Potter: bab paling akhir / epilog dari novel terakhirnya. Bab yang kalau tidak salah disimpan oleh Rowling sejak menuliskan buku pertama itu bagaikan sebuah manuskrip yang belum disunting sama sekali. Malah, waktu pertama saya membacanya, seperti sebuah fiksi karya penggemar yang lazim beredar di internet.

Seri Harry Potter adalah salah satu serial fiksi yang saya sukai (sampai sekarang) dan sedikit-banyak punya dampak pada diri saya. Menurut saya Rowling cukup tepat memilih pasangan Ron Weasley + Hermione Granger, sedikit menyimpang dari pakem “.. the hero gets it all.. ” ala film Hollywood.

Juga saya suka dengan pilihan Rowling mengangkat Neville Longbottom sebagai pahlawan mendadak yang membunuh Nagini. Bahkan, di bukunya, karakter Neville menurut saya cukup besar perannya (dibandingkan dengan di film). .

Kalau yang Rowling maksud adalah Harry seharusnya “jadian” sama Hermione di seri novelnya. Sebagai seorang penggemar saya merasa tidak sreg. Tapi kalau yang dimaksud adalah saat di layar lebar, memang harus diakui ada chemistry yang lebih kuat antara Harry Potter / Daniel Radcliffe dengan Hermione / Emma Watson, dibandingkan Hermione dengan Ron Weasley / Rupert Grint.

Jelang akhir tulisan ini saya tiba-tiba merasa menyesal. Mengapa saya menulis soal Harry Potter, bagai seorang fans yang kegerahan? Apa hak saya untuk uring-uringan dengan pernyataan Rowling?

Mungkin karena, seperti kalimat terkenal Roland Barthes itu: “Pengarang sudah mati”. Kalimat yang saya pernah dengar diartikan sebagai: “setelah sebuah karya dihasilkan, maka sang pengarang sudah tak punya tempat lagi di dalam teks itu. Pemahaman atas teks itu sepenuhnya diserahkan ke pembaca.”

Dengan demikian, saya merasa Rowling mengkhianati pembaca (yaitu saya termasuk di dalamnya) dengan “bangkit dari kubur” dan mengacak-acak teks yang sudah rampung itu.

Sudahlah Bu! Saya justru menantikan karya Anda dengan latar dunia Harry Potter namun mengambil lakon yang berbeda.

Mungkin, kalau boleh usul, akan keren sekali jika ada seri novel: Order of the Phoenix, yang mengisahkan Dumbledore muda bersama James Potter, Lily Potter dll menghadapi Voldemort dalam puncak kekuasaannya dulu. Seri novel yang memiliki pembaca lebih dewasa, tentu saja.

Bu Rowling! Please make this happen!

( Image: © User:Colin / Wikimedia CommonsCC-BY-SA-3.0 )

Footnote: Oke oke, yang diomongin Barthes sebenarnya adalah soal menilai sebuah karya. Bahwa sebuah karya tak sepantasnya dinilai berdasarkan apa yang diniatkan oleh pengarangnya, tapi apa yang diterima oleh pembacanya. Bahwa sesungguhnya pembaca tak mungkin bisa menilai apa niat pengarangnya hanya dari membaca teksnya saja. Tapi saya memilih untuk meminjam secara serampangan ucapan itu di sini supaya, well supaya saya bisa menggunakan frasa bangkit dari kubur tentunya.

Apa Pentingnya?

20140123-164719.jpg

Anak sulung saya, kelas 2 SD, cukup sering bertanya seperti ini: “Apa pentingnya [sesuatu]?”

Mungkin semacam bentuk pola pikir kritis yang muncul dari pergaulannya sehari-hari di sekolah. Sehingga ia mempertanyakan, hampir semua yang dilihatnya.

“Apa pentingnya payung? Kan tidak sedang hujan,” katanya.

Suatu kali, kami sedang menyaksikan video Adam Savage (Mythbuster) menyampaikan pidato di TED (atau TEDx). Kemudian ia membicarakan anak kecil sedang menyeret mainan gerobak. Anak saya pun bertanya: “Apa pentingnya gerobak?”

Aha, sebuah kesempatan emas untuk berusaha menanamkan pandangan saya!

“Gerobak itu penting. Dari gerobak itu, anak (dalam video) itu kemudian jadi berpikir. Dari berpikir ia kemudian bisa menciptakan hal-hal yang luar biasa. Maka segala sesuatu itu, bahkan yang paling sederhana, bisa menjadi penting, karena kita berpikir!”

Oke. Kalimat asli saya tidak seperti itu, lebih banyak gagap dan gugup-nya. Tapi kurang lebih itu yang saya coba tanamkan dalam kesempatan kali ini. Bahwa hampir semua hal, betapapun tampak sederhana, sebenarnya punya potensi untuk jadi sesuatu yang besar, asalkan kita (manusia!) mau memanfaatkan otak kita.

Jadi, apa pentingnya [sesuatu]? Jelas penting. Karena semua bisa bergerak, dari satu hal ke hal lain, satu sentuhan kecil bisa menjadi hentakan yang kemudian jadi dorongan yang kemudian jadi gerakan luar biasa.

Dream of Makin Music

20140122-131321.jpg

Salah satu impian masa kecil saya adalah bisa membuat lagu sendiri. Bukan, bukan maksud ingin jadi terkenal ala Noah atau apa. Cuma saya merasa musik bisa mengekspresikan ‘sesuatu’.

Belakangan, lewat banyak apps dan game di ponsel, impian itu bisa saya kipasi lagi.

Seperti game Band Stars dari Halfbrick (liat screenshot di atas), saya gemar berpura-pura membuat lagu dalam game itu. Paling menyenangkan adalah saat menentukan judul lagunya.

Masih jauh memang, dari yang diinginkan, tapi cukup untuk memuaskan sedikit dahaga.

Ibaratnya air minum dalam kemasan gelas plastik kecil 200 ml, cukuplah untuk sementara.

What Are You Supposed To Do?

20140122-084528.jpg

Ini dia: saya. Duduk sendiri di depan layar monitor, sebuah laptop, dan sibuk menghantam tombol-tombol plastik untuk menghasilkan kata-kata.

Saya yang dengan nekat menyebut diri seorang penulis, namun sudah tidak menghasilkan karya apapun selama entah berapa lama. Saya yang dengan arogan menganggap diri sebagai bagian dari dunia yang sungguh telah saya idam-idamkan sejak puluhan tahun, namun masih dengan bibliografi nyaris nol.

Apa sih sebenarnya pekerjaan seorang penulis itu, jika bukan menulis?

Membaca “Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang” dari Seri Cerita Kenangan Nh Dini membuat saya makin merindukan sesuatu. Semacam fatamorgana tentang kehidupan seorang pengarang. Dan makin bertanya-tanya dengan perih, mengapa hal itu tidak terjadi pada diriku?

Rupanya, saya sering lupa untuk bersyukur. Ya, memang sejauh ini saya belum menghasilkan karya-karya besar yang luar biasa dan mengubah hidup (atau setidaknya mampu membuat orang berpikir dua kali tentang suatu hal).

Tapi ilusi tentang hidup seorang penulis sudah, sedikit banyak, saya jalani. Mulai dari bepergian ke berbagai tempat yang menarik, hingga bertemu banyak orang / tokoh yang luar biasa.

Ternyata kita hanya perlu membuka mata dan menyadari bahwa setiap manusia punya kisahnya sendiri. Tak harus bertemu, dan bergaul, dengan nama-nama besar untuk bisa mendapatkan pengalaman yang luar biasa.

Tak perlu jadi teman baiknya tokoh sastra anu, penulis itu atau pejabat yang di sana. Setiap orang punya legendanya masing-masing, setiap orang punya hikayat masing-masing. Tugas seorang penulis adalah menangkapnya.

Mat Goceng dan Kisah Kemenangan Belanda

IMG_2140[1]Selalu seru untuk melihat karya teman-teman, atau saudara se-Tanah Air. Apalagi kalau karya itu terkait dengan hal-hal yang menarik minat saya.

Misalnya, saat melihat teman-teman Developer membuat game. Jadi teringat saya pernah menjadi juri dalam Nokia Mobile Games Developer War, kalau tidak salah MGDW yang pertama kali diadakan.

Masih teringat betapa saya sebenarnya terkesan dengan game-game tersebut. Meskipun, sebagai juri, mau tidak mau harus menilai mana yang lebih baik dari yang lain dengan se-objektif mungkin. Padahal kalau tidak, mungkin semuanya sudah saya menangkan saja! :p

Momen mengesankan berikutnya adalah saat saya mengunjungi Indonesia Bermain, sebuah event luar biasa yang sempat digelar di Bandung. Di acara itu saya sempatkan membeli Punakawan, sebuah game karya Mas Eko Nugroho.

Maka makin seru ketika, beberapa waktu lalu, saya dan tim dari KompasTekno berkesempatan memainkan Mat Goceng. Card game terbaru dari teman-teman Kummara, kali ini diterbitkan melalui Manikmaya Games.

Hidden Role

Salah satu mekanik seru dalam Mat Goceng adalah “peran tersembunyi”. Mekanik ini kondang dalam game The Resistance atau Saboteur.

Intinya, pemain akan memiliki peran yang tidak diketahui oleh pemain lain. Sepanjang permainan, hal ini akan menambah ketegangan karena pemain tidak langsung tahu apakah yang dihadapinya adalah teman atau lawan. Apalagi, dalam Mat Goceng, setiap peran akan memiliki tujuan (victory condition) yang berbeda.

Begini, kurang lebih, gambaran permainan Mat Goceng:

  • Pemain (3-6 orang) akan memiliki peran yang berbeda.
  • Pada gilirannya, seorang pemain akan mengajukan duel dengan pemain lain.
  • Pertarungan dilakukan dengan kartu jurus.
  • Ada kalanya pemain akan membutuhkan bantuan dari pemain lain untuk meneruskan langkahnya.
  • Pemain lain bisa membantu dengan tawar-menawar “imbalan”, bisa berupa koin (disediakan dalam permainan) atau hal lain.
  • Bisa saja pemain lain membantu tanpa imbalan.
  • Pemain yang kalah duel akan kehilangan “nyawa”, dalam hal ini diwakili oleh gelas kopi di belakang kartu peran.
  • Jika kopinya tinggal satu gelas, peran pemain akan terungkap.

Nah, menariknya adalah, saat pemain membutuhkan bantuan untuk mengalahkan pemain lain. Karena, bisa jadi pemain yang dibantu memiliki peran yang seharusnya musuh dari peran pemain yang minta bantuan.

Eh, Belande!

Latar tokoh dan cerita dari Mat Goceng adalah Indonesia di masa penjajahan Belanda, mungkin tepatnya di area sekitar Batavia. Maka, mungkin sudah bisa ditebak, salah satu tokohnya adalah penjajah Belanda.

Sialnya kalau dapat peran Belanda, yang namanya Rijkaard Cere, adalah ia kemungkinan besar bakal jadi target serangan pemain lain saat perannya terungkap. Dan kalau Meneer Rijkaard Cere butuh bantuan, kemungkinannya kecil akan ada yang membantu. Lagian, siapa yang mau bantuin Belande?

Meski bisa dimainkan bertiga, Mat Goceng paling seru dengan 4 pemain atau lebih. Kalau hanya tiga pemain, biasanya akan lebih cepat menebak siapa pemain yang memiliki peran tertentu.

Saya juga sangat menyarankan untuk bermain game ini lebih dari satu kali dalam satu sesi. Ini akan membuka kemungkinan pemain merasakan peran yang berbeda, sehingga makin terasa serunya.

Lebih seru lagi dari permainan ini adalah cerita yang bisa timbul dari permainan (emerging stories). Cerita ini muncul dari momen-momen dalam game. Seperti yang pernah saya alami berikut ini:

Jadi dalam permainan di atas, kami bermain 5 orang. Dengan peran sebagai berikut: Mat Goceng (bertugas melindungi Nyi Kencleng), Nyi Kencleng (bertugas mengumpulkan koin), Wan Fulus (bertugas mengumpulkan koin), Bang Codet (bertugas menghabisi Mat Goceng) dan Rijkaard Cere (bertugas menghabisi Nyi Kencleng).

Menjelang akhir permainan, Mat Goceng berduel dengan Rijkaard Cere, tapi kalah. Kemudian giliran Nyi Kencleng, yang seharusnya dilindungi Mat Goceng.

Tapi, melalui jebakan kondisi (alias udah napsu banget pengen ngalahin Belande nih Bang!), Mat Goceng justru mendesak Nyi Kencleng (kartu tinggal satu) untuk menyerang Rijkaard Cere (kartu full).

Wan Fulus sudah kehabisan kartu dalam giliran sebelumnya. Tersisa tinggal Bang Codet (kartu masih cukup banyak) dan Mat Goceng (kartu full).

Jelas, Mat Goceng akan membantu Nyi Kencleng, dan merasa cukup pede dengan kondisi kartu full. Bang Codet memilih membantu Rijkaard Cere karena sebelumnya sudah saling membantu.

Rupanya, kartu Mat Goceng tidak sebagus kombinasi Rijkaard Cere dan Bang Codet. Walhasil, permainan berakhir dengan habisnya nyawa Nyi Kencleng (dan kekalahan kedua pemain yang berperan sebagai Mat Goceng dan Nyi Kencleng).