Indoktrinasi

Membaca Novel Pulang (Leila S Chudori) membuat saya merasa betapa dulu telah menjadi “korban” indoktrinasi yang begitu kuat. Entah sampai umur berapa, rasanya sih hingga menjelang 20-an, saya masih merasa bahwa semua yang berbau kiri (Komunis, Sosialis) dll itu buruk, jahat, sadis, kejam, atheis, tidak bermoral dan lain-lain.

Dan betapa banyak fakta yang dikaburkan, dihapus dan dimanipulasi oleh sebuah rezim. Sehingga sejarah … Ah! Sejarah! … (cuma sebuah permainan busuk yang tak tentu arah).

Jadi berpikir, betapa mudahnya manusia “diprogram ulang” untuk percaya pada sesuatu. Begitu rapuhnya pikiran manusia sebenarnya. Benda yang sama yang bisa menghasilkan karya seni, kebudayaan dan teknologi yang luar biasa ini ternyata bisa dipletat-pletot sedemikian rupa, kayak lilin mainan Pley-Doh di jemari mungil balita.

Jleb!

Menghadapi Perubahan, Menghadapi Kenyataan

change

Percaya atau tidak, siap atau tidak, perubahan akan terjadi.Kita terlalu naif dan bodoh jika menganggap posisi nyaman saat ini akan bertahan selamanya.

Tadhg Kelly menulis tentang perubahan di arena game konsol, dari jamannya Big Three (Sony, Nintendo dan Microsoft), ke microconsole. Memang, microconsole sendiri masih terbilang baru dan belum terbukti, tapi geliat produsen seperti Ouya memang menarik untuk diikuti. (Baca: http://www.whatgamesare.com/2013/03/why-microconsoles-are-a-big-deal.html)

Ada yang menarik dari tulisannya, yaitu soal reaksi dari para petinggi dan pembesar di industri game yang meremehkan microconsole. Padahal, belum lima tahun lalu saat industri game yang sama meremehkan perkembangan social dan mobile gaming (Facebook games, smartphone dan tablet). Sekarang, menurut Kelly, mereka memberi reaksi yang sama.

This is how the industry typically reacts to new ideas. Five years ago the industry was equally baffled by the idea that Facebook games would be a very big thing. It had much the same reaction to smartphones, or tablets. Most developers and publishers tend to develop a fixed understanding of the gaming universe, as though how the market is today is somehow how it was always meant to be, and how it will be for all time. And then it changes.

Simak kalimat yang saya tebalkan di atas: “seakan-akan pasar yang ada sekarang adalah pasar yang memang sejak dulunya sudah begini, dan akan begini terus untuk selamanya”.

Uff, betapa naifnya jika memang mereka berpikir demikian!

Dan pemikiran semacam itu juga terjadi di industri yang lain. Misalnya di industri media massa. Masih ada yang berpikiran bahwa pasar yang membuat mereka besar masih akan terus ada lima-sepuluh tahun ke depan. Padahal, lima-sepuluh tahun ke depan pasti akan ada perubahan.

Menghadapi perubahan itu jadi sesuatu yang wajib untuk dilakukan. (Salah satunya dengan melihat fundamental, melihat dasar kemampuan apa yang selama ini membuatnya jadi besar, dan memperkuat dasar kemampuan itu.).

Selain memperkuat diri, tentunya perlu menyiapkan pondasi dan kuda-kuda agar melangkah ke depan bisa makin mantap.

Sayangnya, masih ada yang beranggapan bahwa situasi saat ini yang supernyaman dan empuuuk itu akan bertahan selamanya. Oh, betapa naifnya kita jika demikian adanya.

Fokus pada Kualitas Karya

Kutipan berikut ini dari Ken Levine, penulis untuk game BioShock, saat diwawancarai oleh Tom Bissell, penulis untuk game Gears of War:

I tend not to spend a lot of time being anxious about things. I tend to spend the time looking for opportunity. Because the Earth will turn. You can choose to try to stop it from turning, but it will turn. There are truths. The sun will go up and the sun will go down. And I think that you have to count on those truths. Quality matters. Focus on your craft. (http://www.grantland.com/story/_/id/9097228/tom-bissell-interviews-ken-levine-mind-bioshock)

Dua kalimat terakhir itu menarik untuk diresapi.

Dalam dunia yang kerap berubah, akibat dari perkembangan teknologi dan bla bla bla lainnya, agaknya adalah sikap yang baik bagi seorang pekerja kreatif (penulis, misalnya) untuk siap menghadapi perubahan itu.

Industri ini berubah. Dunia bergerak terus. Dari pada pusing memikirkan itu semua, dan diselimuti kegelisahan tanpa ujung, lebih baik berusaha memperbaiki kemampuan diri sendiri.

Tentang Penulisan dalam Game

Sebuah dialog menarik di The New Yorker menampilkan penulis untuk game Gears of War, Tom Bissel.

Berikut adalah kutipannya:

.. now that I’ve worked on a few games, I’ve grappled with the degree to which games are not really a writer’s medium. Film’s not really a writer’s medium, either. Good writing certainly doesn’t hurt, but it’s not the thing that saves the day.

I’ve been quietly lobbying for games that are smart and intelligent, even if they’re about blowing lots of shit up. At the same time, though, pure storytelling is never going to be the thing that games do better than anything.

Games are primarily about a connection between the player, the game world, and the central mechanic of the game. They’re about creating a space for the player to engage with that mechanic and have the world react in a way that feels interesting and absorbing but also creates a sense of agency.

So writing, in games, is about creating mood and establishing a basic sense of intent. The player has some vague notion of what the intent of the so-called author is, but the power of authorship is ultimately for the player to seize for him or herself.

This goes for any kind of game. I think good game writing is a process of getting out of the player’s way. You give him or her just enough to work with narratively, but ultimately you let the player tell his or her own story.

Menertawakan Orang Biasa, Menertawakan Diri Sendiri

paintedladies

Saya bukan penulis humor. Itu sudah pasti. Buat saya menulis komedi adalah sebuah misteri, yang masih terus saya jelajahi. Mungkin, saya lebih cocok menulis tragedi.

Tapi, saya tetap berusaha mempelajari, sambil tentunya menikmati, berbagai karya komedi.

Salah satu yang saya ingat, dari masa kecil, adalah menikmati serial komedi keluarga. Misalnya seri Full House yang membuat akrab nama-nama seperti Bob Saget dan Mary Kate serta Ashley Olsen.

Seiring waktu, Friends jadi tontonan kegemaran. Dan belakangan, tentunya How I Met Your Mother, Big Bang Theory dan juga Modern Family.

Satu hal yang menarik, biasanya serial komedi memiliki latar atau tokoh yang tidak terlalu luar biasa. Paling tidak, pada awalnya tampak biasa saja. Mungkin, seperti saat menikmati Stand Up Comedy, kita lebih mudah menikmati humor saat berasal dari situasi yang “biasa saja”.

Memang, ada seri komedi yang menampilkan situasi luar biasa. Misalnya Veep, yang menampilkan kehidupan wakil presiden AS, atau serial Spy, yang menampilkan agen rahasia Inggris. Tapi saya pribadi merasa, yang lebih melekat, adalah yang menampilkan “orang biasa”.

Mungkin, komedi situasi memberi kesempatan pada penontonnya untuk menertawakan dirinya sendiri dengan lebih nyaman dan aman.

Foto: Jajaran rumah di San Francisco yang dikenal sebagai The Painted Ladies, merupakan lokasi pengambilan gambar untuk adegan pembuka seri Full House. (Koleksi pribadi)

Crazy Shouting Game

SpaceTeam

Ada satu game yang saya lagi senang untuk mainkan di iPhone. Game ini social dalam arti sesungguhnya karena untuk bermain harus ada orang lain (yang juga harus memakai perangkat iOS). Saya mengkategorikan game ini sebagai boardgame, ya boardgame digital mungkin.

Game ini berjudul Spaceteam.

Jika memainkan game ini, orang yang melihat mungkin akan  menyebut kami “gila” karena bisa jadi akan dipenuhi teriakan-teriakan nggak jelas. Tapi inti dari game ini adalah koordinasi tim.

Setiap pemain dalam game ini adalah anggota sebuah pesawat penjelajah antariksa. Di layar masing-masing akan muncul berbagai tombol, tuas dan alat kendali lain. Kemudian, setiap waktu tertentu, akan muncul perintah untuk mengaktifkan, mematikan dan mengutak-atik alat kendali tersebut.

Nah, uniknya, perintah yang muncul di layar satu pemain hampir selalu perintah yang merujuk ke kendali di perangkat pemain lain. Artinya, satu pemain harus bisa mengkomunikasikan perintah itu ke pemain lain.

Bayangkan bahwa di satu saat yang sama, semua pemain mendapatkan perintah yang berbeda-beda, dan mereka harus bisa saling menyampaikannya pada pemain lain. Di sinilah letak kemampuan koordinasi diperlukan.

Tambah lagi, setiap perintah memiliki batas waktu, yang jika terlewati akan membuat panel kendali terganggu, seperti copot, terkena bocoran “oli” atau lendir hijau dan lain-lain yang akan membuat pemain makin sulit mengendalikan pesawat itu.

Jika itu belum cukup, setiap waktu tertentu akan ada gangguan seperti asteroid atau vortex yang mewajibkan semua pemain (tanpa kecuali) untuk melakukan aksi tertentu secara bersamaan, seperti shake atau flip.

Semakin jauh perjalanan pesawat, ada juga gangguan tambahan. Seperti, misalnya, gangguan pada label atau tiba-tiba nama panel kendali ditulis dalam simbol-simbol.

Ya, ini memang permainan penuh panik dan teriakan. Tapi sensasi saat berhasil bekerjasama membawa pesawat melewati area tertentu (dan melakukan hyperspace jump) adalah sungguh mengesankan.

Kalau kebetulan punya beberapa teman yang sama-sama memakai perangkat iOS, game ini sangat layak dimainkan bersama. (Info developernya di http://www.sleepingbeastgames.com/spaceteam/ )

Nasihat Terbaik untuk Penulis Pemula

Video berikut ini adalah salah satu nasihat terbaik mengenai penulisan, terutama untuk mereka yang baru mulai. Tapi berlaku juga untuk upaya kreatif lain.

Singkatnya: saat memulai “karir kreatif” selalu ada jarak antara kualitas karya yang ingin kita hasilkan dan yang sesungguhnya dihasilkan. Nasihat Ira Glass dalam video tersebut adalah, untuk terus menghasilkan karya, dan lakukan sebanyak-banyaknya, sambil terus berusaha menutup celah itu.

Beberapa tahun pertama bisa jadi yang kita hasilkan hanyalah “sampah”, namun dengan terus menghasilkan karya maka akan semakin tajam kemampuan kita.

Dan ingat untuk selalu kritis pada karya yang kita hasilkan. Selalu ada godaan untuk merasa puas dengan apa yang sudah dihasilkan, padahal kita bisa lebih baik. Dalam hati, kita tahu, bahwa karya yang dihasilkan bisa lebih baik dari ini. Dengarkan suara hati itu, kritikus internal yang memiliki selera mantap itu.

Keep Pushing Forward!